Sumber Kebenaran dalam Filsafat Ilmu: Studi atas Konsep Wahyu dan Intuisi
SUMBER KEBENARAN DALAM FILSAFAT ILMU:
STUDI ATAS KONSEP WAHYU DAN INTUISI
OLEH
MUZAMIL , S.Th.I, M.Th.I
(Dosen STAI Taswirul Afkar Surabaya)
Abstrak
Kajian tentang sumber pengetahuan dalam
Filsafat ilmu sangat penting dan menarik untuk
dibicarakan. Dalam dunia filsafat, ada dua sumber pengetahuan yang selama ini disetujui
oleh mayoritas pakar. Namun berdasarkan realitas sosial, ada dua lagi sumber pengetahuan
yang bersifat personal sehingga tidak semua orang dapat menerimnya, yaitu wahyu
dan intuisi.
Wahyu adalah informasi yang
didapatkan secara cepat dan disampaikan secara tersembunyi. Konsep wahyu
tersebut saat ini sudah dapat disaksikan lebih jelas oleh manusia dengan adanya
hipnotisme yang menjelaskan bahwa hubungan jiwa manusia dengan kekuatan yang
lebih tinggi menimbulkan pengaruh. Ini mendekatkan orang pada pemahaman tentang
gejala wahyu. Orang yang berkemauan lebih kuat dapat memaksakan kemauannya
kepada orang yang lebih lemah, sehingga yang lemah ini tertidur pulas, dan ia
kemudian menuruti kehendaknya sesuai dengan isyarat yang diberikan. Maka, mengalirlah semua itu ke
dalam hati dan mulutnya. Apabila ini yang diperbuat manusia terhadap sesama
manusia, bagaimana dengan yang lebih kuat dari manusia itu, yakni Allah yang
Maha Perkasa terhadap manusia.
Intuisi, berdasarkan Webster Dictionary,
adalah kemampuan manusia untuk memperoleh pengetahuan langsung atau wawasan
langsung tanpa melalui observasi atau penalaran terlebih dahulu. keputusan yang berdasarkan intuisi tersebut sering
digunakan manusia, misalnnya menentukan pasangan hidup, memilih jurusan kuliah
dan lain-lain.
Berdasarkan
hal tersebut, wahyu dan intuisi dapat dijadikan sumber pengetahuan yang
bersifat personal dan
harus digunakan secara proporsional.
Kata kunci: Sumber pengetahuan, wahyu,
intuisi, filsafat Ilmu
A. Pendahuluan
Perbincangan tentang filsafat hampir bisa dipastikan akan membuat otak kita berputar dengan cepat dan berhenti secara tiba-tiba sehingga menyebabkan dahi kita mengkerut dan cepat tampak tua. Hal tersebut dapat dilihat dari suasana diskusi-diskusi tentang tema-tema abstrak yang berbahu filsafat. Misalnya, diskusi tentang dasar-dasar pengetahuan, konsep “Ada”, penciptaan alam semesta, Perbedaan pengetahuan dan Ilmu, dan lain-lain.
Louis O. Kattsoff menyatakan bahwa filsafat tidak memberikan petunjuk-petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi, juga tidak menjelsakan teknik-teknik baru untuk membuat roti yang enak, tetapi filsafat akan mengajarkan dan melatih kita untuk mengoptimalkan otak yang dianugrahkan Allah dengan cara menggunakannya untuk berfikir secara sistematis, konsisten, radikal dan konperhensif untuk memcahkan masalah yang dihadapi. Filsafat akan membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman dapat membawa kepada tindakan yang lebih layak.
Dalam dunia filsafat, kita akan diperkenalkan dengan perbincangan tentang sumber pengetahuan. Secara garis besar, dalam konteks Filsafat modern terdapat dua sumber pengetahuan yang dianggap melahirkan ilmu pengetahuan bagi manusia, yaitu pengetahuan yang lahir atas pertimbangan rasio/akal dan pengetahuan yang dihasilkan melalui pengalaman /empirik.
Kedua faham tersebut dalam perkembangannya terus menerus melakukan dialektika. Kebenaran yang pertimbangannya pada rasio dikenal dengan istilah Rasionalisme, sedangkan sumber pengetahuan yang mendasari kebenaran pada pengalaman diistilahkan dengan empirisme.
Pemikiran-pemikiran tersebut sebenarnya telah mengalami proses islamisasi pada era skolastik oleh para filosof muslim dengan menggunakan sandaran pada konsepsi spritual. Jika ditelusuri lebih jauh, Islam melalui karya filosof skolastik memperkenalkan sumber pengetahuan lain di luar rasionalisme dan empirisme yaitu intuisi dan wahyu.
Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang dua sumber pengetahuan pertama tersebut :
1. Rasionalisme
Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Prinsip itu sendiri ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya, fungsi pemikiran manusia hanyalah mengenali prinsip tersebut yang kemudian menjadi pengetahuannya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ide bagi kaum rasionalis dalah bersifat apriori. Dalam hal ini, maka pemikiran rasional cenderung bersifat subjektif atau hanya benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berbeda dalam benak orang yang berfikir tersebut.
2. Empiris
Kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, namun lewat pengalaman yang konkret. Dengan menggunakan metode induktif maka dapat disusun pengetahuan yang berlaku secara umum lewat pengamatan terhadap gejala-gejala fisik yang bersifat individual. Masalah utama yang timbul dalam penyusunan pengetahuan secara empiris ini ialah bahwa pengetahuan yang dikumpulkan itu cenderung menjadi suatu kumpulan fakta-fakta. Kumpulan tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif .
Dalam makalah ini, penulis ingin memfokuskan kajian pada definisi wahyu dan intuisi, dan bagaimana memposisikan kedua sumber tersebut untuk menjadi sumber kebenaran secara proporsional?
B.Pembahasan
b.1. Makna Wahyu
Wahyu, menurut Kamus Al-Mufrâdât fî Ghara`ibi`l-Qur`ân adalah al-‘Isyaratu`s-sarî’ah. Artinya, isyarat yang cepat yang dimasukkan ke dalam hati seseorang atau ilqâ’un fi`r-rau`I, maksudnya yang disampaikan dalam hati.
Secara bahasa kata wahyu terambil dari “wahaitu ilaihi” atau “auhaitu” bila kita berbicara kepada seseorang agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan anggota badan.
Al-wahyu adalah masdar/infinitif, dan materi kata itu menunjukkan dua dasar, yaitu tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, maka dikatakan bahwa wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus diberikan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi, kadang-kadang juga bahwa yang dimaksudkan adalah al-muha, yaitu pengertian isim maf'ul yang diwahyukan.
Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi : Ilham, sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa, "Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia ...'." . Ilham berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah, "Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah, 'Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di rumah-rumah yang didirikan manusia'." . Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Al qur’an, "Maka keluarlah dia dari mihrab, lalu memberi isyarat kepada mereka, 'Hendaknya kamu bertasbih di waktu pagi dan petang'" . Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia. "Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu." . "Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu mereka" .
Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan. "Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman'." . Sedang wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syar'i mereka definisikan sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi. Definisi ini menggunakan pengertian maf'ul, yaitu al muha (yang diwahyukan). Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalah al Tauhid dengan pengetahuan yang didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah, melalui perantara ataupun tidak. Yang pertama melalui suara yang menjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali .
Munculnya pengetahuan tersebut sangat terkait dengan kebersihan jiwa seseorang. Hal tersebut didukung dan diperkuat oleh perbedaan manusia dalam kecerdasannya, kecenderungannya, dan nalurinya. Di antara intelijensia itu ada yg istimewa dan cemerlang sehingga dapat menemukan segala hal yang baru. Tetapi, ada pula yang dungu dan sukar memahami urusan yang mudah sekalipun. Di antara dua posisi ini terdapat sekian banyak tingkatan. Demikian pula halnya dengan jiwa, ada yang jernih dan cemerlang, ada pula yang kotor dan kelam.
Manusia kini menyaksikan adanya hipnotisme yang menjelaskan bahwa hubungan jiwa manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi menimbulkan pengaruh. Ini mendekatkan orang pada pemahaman tentang gejala wahyu. Orang yang berkemauan lebih kuat dapat memaksakan kemauannya kepada orang yang lebih lemah, sehingga yang lemah ini tertidur pulas, dan ia kemudian menuruti kehendaknya sesuai dengan isyarat yang diberikan. Maka, mengalirlah semua itu ke dalam hati dan mulutnya. Apabila ini yang diperbuat manusia terhadap sesama manusia, bagaimana dengan yang lebih kuat dari manusia itu, yakni Allah Yang Maha Perkasa terhadap manusia?
Dengan kemajuan di bidang teknologi, Sekarang orang dapat mendengar suara yang direkam dan dibawa oleh gelombang eter, menyeberangi lembah dan dataran tinggi, lautan, dan daratan tanpa melihat si pembicara, bahkan sesudah mereka wafat sekalipun. Kini dua orang dapat berbicara melalui telepon, sekalipun yang seorang berada di ujung timur dan seorang yang lain berada di ujung barat, dan terkadang pula mereka berdua saling melihat dalam percakapan itu, sementara orang-orang yang duduk di sekitarnya tidak mengetahui sesuatu melainkan sekedar dengungan seperti suara lebah, persis seperti dengungan pada waktu turun wahyu.
Siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami percakapan dengan diri sendiri, dalam keadaan sadar atau tidur, yang pernah terlintas dalam pikirannya tanpa melihat orang yang diajak berbicara di hadapannya. Yang demikian ini serta contoh-contoh lain yang serupa cukup untuk menjelaskan kepada kita tentang hakikat wahyu. Orang yang sezaman dengan wahyu menyaksikan wahyu dan menukilnya secara mutawatir dengan segala persyaratan yang meyakinkan kepada generasi-generasi sesudahnya. Umat manusia pun menyaksikan pengaruhnya di dalam budaya bangsanya serta dalam kemampuan pengikutnya. Manusia akan tetap menjadi mulia selama tetap berpegang pada keyakinan itu, dan akan hancur serta hina bila sudah mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu serta kepastiannya sudah tidak dapat diragukan lagi. Untuk itu, manusia harus kembali kepada petunjuk wahyu demi menyiram jiwanya yang haus akan nilai-nilai luhur.
Di dalam al Qur’an disebutkan "Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, 'Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang yang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka ?' Orang-orang kafir berkata, 'Sesungguhnya orang ini (Muhammad) adalah benar-benar tukang sihir yang nyata'." .
Imam Al Ghazali mengatakan bahwa tingkatan pengetahuan yang dasar adalah pengetahuan yang didasarkan pada panca indra.Ia dikatakan dasar karena ia gampang tertipu. Jadi jangan sekali-kali menjadikan panca indra ini sebagai landasan utama dalam mencari kebenaran .
Kemudian Al-Ghazali menganjurkan supaya umat Islam mencari kebenaran dengan menjadikan al-Quran sebagai sumber utama bukannya melalui proses pemikiran dan akal dan panca indra an sich. Persoalan yang ditentang oleh Al-Ghazali bukan ahli filsafat dan pemikiran yang dibawakan oleh mereka tetapi kesalahan, keteledoran, dan kesesatan yang dilakukan oleh golongan tersebut yang menganggap bahwa rasio dan pengalaman sebagai satu-satunya jalan kebenaran. Al-Ghazali, secara sederhana, mengacu pada pemikiran filsafat Al– Qur’an itu sendiri sebagai sumber ilmu pengetahuan yang menyediakan berjuta-juta kekayaan ilmu itu sendiri .
b. 2. Intuisi sebagai Sumber Kebenaran
Intuisi, berdasarkan Webster Dictionary, adalah kemampuan manusia untuk memperoleh pengetahuan langsung atau wawasan langsung tanpa melalui observasi atau penalaran terlebih dahulu. Menurut David G. Myers, penulis buku Intuition: Its Power and Perils , pemikiran intuitif itu seperti persepsi, sekelebat, dan tanpa usaha. Memang, psikolog sosial peraih Gordon Allport Prize ini secara jujur mengikuti pandangan Prof. Daniel Kahneman, Guru Besar Psikologi Princeton University, Pemenang Nobel Ekonomi 2002, dapat ditelusuri dari pernyataannya, “Kami mempelajari pelbagai macam intuisi, beragam pemikiran, dan preferensi yang mendatangi pikiran secara cepat tanpa banyak refleksi.”
Gambaran diperolehnya kebenaran intuisi ini dapat diilusterasikan pada penjelasan berikut. Saat memilih pasangan seumur hidup, memilih jurusan kuliah atau bidang pekerjaan, menentukan partner bisnis, memutuskan sebuah kebijakan atau sikap politik, bahkan ketika memasang taruhan dalam sebuah permainan, di hadapan Anda tersedia paling tidak dua pilihan. Sayang, tidak tersedia cukup waktu untuk melakukan analisis, berpikir logis apalagi kritis, sebab permainan harus segera dilanjutkan dan dadu sesaat lagi akan dilemparkan. Satu keputusan harus segera Anda tentukan. Tiba-tiba, Anda merasa memperoleh bisikan, ilham, wangsit, informasi laduni, atau apalah Anda menyebutnya. Kemudian, dengan begitu yakin dan penuh percaya diri, Anda segera menentukan satu pilihan. Dan, Anda berhasil menjadi pemenang.
Itulah salah satu cara kerja intuisi. Pelbagai data dan temuan dari beratus riset mutakhir di bidang psikologi dan riset otak telah menegaskan bahwa kecerdasan intuitif sesungguhnya bisa dimiliki oleh setiap orang dari berbagai kalangan. Melalui serangkaian argumen yang amat bernas disertai contoh-contoh lugas, tulisan David G. Myers di atas juga menunjukkan kekuatan, kelemahan, dan penerapan intuisi secara praktis untuk mencapai kesuksesan dalam beragam profesi: pejabat, pelaku ekonomi, psikiater, pendidik, pewawancara, bahkan penjudi dan paranormal sekalipun.
Menurut Niels Bohr, seorang fisikawan, “Ada kebenaran sepele, ada kebenaran agung. Kebalikan dari kebenaran yang sepele adalah keliru. Kebalikan dari kebenaran yang agung adalah benar”. Demikian juga halnya dengan intuisi manusia. Ia memiliki kekuatan-kekuatan, juga bahaya-bahaya yang mengejutkan. Di satu sisi, sains kognitif saat ini telah berhasil mengungkapkan pikiran tak sadar yang mempesonakan—pikiran lain yang tersembunyi.
Jika intuisi adalah pengenalan langsung, tanpa analisis ternalar, maka pencerapan adalah intuisi par excellence. Dengan demikian, apakah intelegensia manusia lebih dari sekadar logika? Apakah berpikir lebih dari sekadar menata kata-kata? Apakah pemahaman lebih dari sekadar pengenalan yang sadar? Psikolog kognitif George Miller menjelaskan kebenaran ini dengan kisah mengenai dua orang penumpang yang bersandar pada jeruji kapal sambil memandang lautan. “Tentu saja ada banyak sekali air di lautan”, ujar salah seorang di antara mereka. ‘Ya’, temannya menjawab, ‘dan kita hanya melihat permukaannya saja”.
Persoalan yang dihadapi oleh manusia sangat kompleks. Tidak semua persoalan itu dapat diukur dengan penilaian secara matematik, dengan hitungan angka-angka atau parametrik. Albert Einstein, penemu bom atom pertama kali dalam dunia fisika, menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa, “Tidak semua hal yang bisa dihitung berjumlah, dan tidak semua hal berjumlah bisa dihitung.” Dari pernyataan Einstein ini tersirat adanya suatu kebenaran yang datangnya tidak dapat diprediksikan secara matematis, yaitu dengan hitungan secara pasti. Ini menunjukkan adanya alternatif sebuah sumber kebenaran yang dapat dilacak dari potensi-potensi yang ada dari kekuatan manusia sebagai anugerah Tuhan. Kekuatan ini lebih mengarah kepada bagaimana manusia mampu mengoptimalkan kekuatan potensial menjadi kekuatan aktual. Kekuatan aktual yang dapat diandalkan itu adalah intuisi.
Intuisi manusia bisa keliru. Karena sepanjang sejarah umat manusia, nenek moyang kita setiap hari melihat matahari melintasi langit. Ini setidaknya memiliki dua penjelasan yang masuk akal: a) matahari memutari bumi, atau b) bumi berputar sementara matahari tetap berada di tempatnya. Intuisi lebih menyukai yang pertama. Sementara observasi-observasi ilmiah Galileo menghendaki yang kedua.
Berdasarkan paparan tersebut, intuisi dapat dijadikan sebagai salah satu sumber kebenaran yang sifatnya emergence dan subjektif. Hal ini karena intuisi dapat muncul di saat manusia dalam kondisi terpepet karena waktu sementara itu, ia harus memutuskan sesuatu yang sedang dipikirkan. Tentunya, kebenaran intuisi adalah kebenaran yang bersifat tentatif dan relatif, bukan sebagai kebenaran absolute seperti wahyu yang diyakini oleh orang yang beragama. Dalam realitasnya, intuisi memiliki kekuatan sekaligus kelemahan yang secara praktis dapat dilihat dan diamati dalam kehidupan empiris .
C. Penutup
Dalam pembahasan tersebut, kiranya kita dapat membaca dan memahami wahyu dan intuisi secara definitif. keduanya tidak dapat dinafikan untuk menjadi sumber pengetahuan disamping rasio dan pancaindra. Namun demikian, kiranya kita harus memosisikan keduanya secara proporsional. Artinya, wahyu dapat dijadikan sumber kebenaran dalam beragama dan intuisi sebagai sumber pengetahuan untuk hal yang berada di luar jangkauan akal dan panca indra. Wahyu memiliki otoritas lebih dibanding intuisi, karena memiliki sumber dan sejarah bersifat pasti sedangkan intuisi bersifat spekulatif walaupun kedua-duanya sama-sama bersifat personal.
Semoga makalah ini bermanfa’at, amin.
Bibliografi
Abduh, Muhammad. Risalah al Tauhid. Kairo: Dal al Kutub, 1998
Al Ghazali, Muhammad. Al munqiz min al dhalal. Dar al nasyr, Bairut, 1997
Al Qattan, Manna’ Khalil. Mabahist fi ulum al Qur’an. Dar al Fikr, Bairut, 2000
Kattsoff, Louis. Pengantar Filsafat. Yogyakarta, Tiara Wacana, 1996.
Myers, David G. Intuition : Its powers and Perils. Yele University Press, 2002.
Miller, George. The magical number seven, plus or minus two: Some limits on our capacity for processing information. Psychological Review:1956, dalam http://www.psych.utoronto.ca
Sahrodi, Jamali. Mempertimbangkan Intuisi Sebagai Sumber Kebenaran (http://www.scribd.com diakses 03/11/2010)
Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2003.
Perbincangan tentang filsafat hampir bisa dipastikan akan membuat otak kita berputar dengan cepat dan berhenti secara tiba-tiba sehingga menyebabkan dahi kita mengkerut dan cepat tampak tua. Hal tersebut dapat dilihat dari suasana diskusi-diskusi tentang tema-tema abstrak yang berbahu filsafat. Misalnya, diskusi tentang dasar-dasar pengetahuan, konsep “Ada”, penciptaan alam semesta, Perbedaan pengetahuan dan Ilmu, dan lain-lain.
Louis O. Kattsoff menyatakan bahwa filsafat tidak memberikan petunjuk-petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi, juga tidak menjelsakan teknik-teknik baru untuk membuat roti yang enak, tetapi filsafat akan mengajarkan dan melatih kita untuk mengoptimalkan otak yang dianugrahkan Allah dengan cara menggunakannya untuk berfikir secara sistematis, konsisten, radikal dan konperhensif untuk memcahkan masalah yang dihadapi. Filsafat akan membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman dapat membawa kepada tindakan yang lebih layak.
Dalam dunia filsafat, kita akan diperkenalkan dengan perbincangan tentang sumber pengetahuan. Secara garis besar, dalam konteks Filsafat modern terdapat dua sumber pengetahuan yang dianggap melahirkan ilmu pengetahuan bagi manusia, yaitu pengetahuan yang lahir atas pertimbangan rasio/akal dan pengetahuan yang dihasilkan melalui pengalaman /empirik.
Kedua faham tersebut dalam perkembangannya terus menerus melakukan dialektika. Kebenaran yang pertimbangannya pada rasio dikenal dengan istilah Rasionalisme, sedangkan sumber pengetahuan yang mendasari kebenaran pada pengalaman diistilahkan dengan empirisme.
Pemikiran-pemikiran tersebut sebenarnya telah mengalami proses islamisasi pada era skolastik oleh para filosof muslim dengan menggunakan sandaran pada konsepsi spritual. Jika ditelusuri lebih jauh, Islam melalui karya filosof skolastik memperkenalkan sumber pengetahuan lain di luar rasionalisme dan empirisme yaitu intuisi dan wahyu.
Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang dua sumber pengetahuan pertama tersebut :
1. Rasionalisme
Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Prinsip itu sendiri ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya, fungsi pemikiran manusia hanyalah mengenali prinsip tersebut yang kemudian menjadi pengetahuannya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ide bagi kaum rasionalis dalah bersifat apriori. Dalam hal ini, maka pemikiran rasional cenderung bersifat subjektif atau hanya benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berbeda dalam benak orang yang berfikir tersebut.
2. Empiris
Kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, namun lewat pengalaman yang konkret. Dengan menggunakan metode induktif maka dapat disusun pengetahuan yang berlaku secara umum lewat pengamatan terhadap gejala-gejala fisik yang bersifat individual. Masalah utama yang timbul dalam penyusunan pengetahuan secara empiris ini ialah bahwa pengetahuan yang dikumpulkan itu cenderung menjadi suatu kumpulan fakta-fakta. Kumpulan tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif .
Dalam makalah ini, penulis ingin memfokuskan kajian pada definisi wahyu dan intuisi, dan bagaimana memposisikan kedua sumber tersebut untuk menjadi sumber kebenaran secara proporsional?
B.Pembahasan
b.1. Makna Wahyu
Wahyu, menurut Kamus Al-Mufrâdât fî Ghara`ibi`l-Qur`ân adalah al-‘Isyaratu`s-sarî’ah. Artinya, isyarat yang cepat yang dimasukkan ke dalam hati seseorang atau ilqâ’un fi`r-rau`I, maksudnya yang disampaikan dalam hati.
Secara bahasa kata wahyu terambil dari “wahaitu ilaihi” atau “auhaitu” bila kita berbicara kepada seseorang agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan anggota badan.
Al-wahyu adalah masdar/infinitif, dan materi kata itu menunjukkan dua dasar, yaitu tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, maka dikatakan bahwa wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus diberikan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi, kadang-kadang juga bahwa yang dimaksudkan adalah al-muha, yaitu pengertian isim maf'ul yang diwahyukan.
Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi : Ilham, sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa, "Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia ...'." . Ilham berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah, "Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah, 'Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di rumah-rumah yang didirikan manusia'." . Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Al qur’an, "Maka keluarlah dia dari mihrab, lalu memberi isyarat kepada mereka, 'Hendaknya kamu bertasbih di waktu pagi dan petang'" . Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia. "Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu." . "Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu mereka" .
Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan. "Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman'." . Sedang wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syar'i mereka definisikan sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi. Definisi ini menggunakan pengertian maf'ul, yaitu al muha (yang diwahyukan). Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalah al Tauhid dengan pengetahuan yang didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah, melalui perantara ataupun tidak. Yang pertama melalui suara yang menjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali .
Munculnya pengetahuan tersebut sangat terkait dengan kebersihan jiwa seseorang. Hal tersebut didukung dan diperkuat oleh perbedaan manusia dalam kecerdasannya, kecenderungannya, dan nalurinya. Di antara intelijensia itu ada yg istimewa dan cemerlang sehingga dapat menemukan segala hal yang baru. Tetapi, ada pula yang dungu dan sukar memahami urusan yang mudah sekalipun. Di antara dua posisi ini terdapat sekian banyak tingkatan. Demikian pula halnya dengan jiwa, ada yang jernih dan cemerlang, ada pula yang kotor dan kelam.
Manusia kini menyaksikan adanya hipnotisme yang menjelaskan bahwa hubungan jiwa manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi menimbulkan pengaruh. Ini mendekatkan orang pada pemahaman tentang gejala wahyu. Orang yang berkemauan lebih kuat dapat memaksakan kemauannya kepada orang yang lebih lemah, sehingga yang lemah ini tertidur pulas, dan ia kemudian menuruti kehendaknya sesuai dengan isyarat yang diberikan. Maka, mengalirlah semua itu ke dalam hati dan mulutnya. Apabila ini yang diperbuat manusia terhadap sesama manusia, bagaimana dengan yang lebih kuat dari manusia itu, yakni Allah Yang Maha Perkasa terhadap manusia?
Dengan kemajuan di bidang teknologi, Sekarang orang dapat mendengar suara yang direkam dan dibawa oleh gelombang eter, menyeberangi lembah dan dataran tinggi, lautan, dan daratan tanpa melihat si pembicara, bahkan sesudah mereka wafat sekalipun. Kini dua orang dapat berbicara melalui telepon, sekalipun yang seorang berada di ujung timur dan seorang yang lain berada di ujung barat, dan terkadang pula mereka berdua saling melihat dalam percakapan itu, sementara orang-orang yang duduk di sekitarnya tidak mengetahui sesuatu melainkan sekedar dengungan seperti suara lebah, persis seperti dengungan pada waktu turun wahyu.
Siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami percakapan dengan diri sendiri, dalam keadaan sadar atau tidur, yang pernah terlintas dalam pikirannya tanpa melihat orang yang diajak berbicara di hadapannya. Yang demikian ini serta contoh-contoh lain yang serupa cukup untuk menjelaskan kepada kita tentang hakikat wahyu. Orang yang sezaman dengan wahyu menyaksikan wahyu dan menukilnya secara mutawatir dengan segala persyaratan yang meyakinkan kepada generasi-generasi sesudahnya. Umat manusia pun menyaksikan pengaruhnya di dalam budaya bangsanya serta dalam kemampuan pengikutnya. Manusia akan tetap menjadi mulia selama tetap berpegang pada keyakinan itu, dan akan hancur serta hina bila sudah mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu serta kepastiannya sudah tidak dapat diragukan lagi. Untuk itu, manusia harus kembali kepada petunjuk wahyu demi menyiram jiwanya yang haus akan nilai-nilai luhur.
Di dalam al Qur’an disebutkan "Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, 'Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang yang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka ?' Orang-orang kafir berkata, 'Sesungguhnya orang ini (Muhammad) adalah benar-benar tukang sihir yang nyata'." .
Imam Al Ghazali mengatakan bahwa tingkatan pengetahuan yang dasar adalah pengetahuan yang didasarkan pada panca indra.Ia dikatakan dasar karena ia gampang tertipu. Jadi jangan sekali-kali menjadikan panca indra ini sebagai landasan utama dalam mencari kebenaran .
Kemudian Al-Ghazali menganjurkan supaya umat Islam mencari kebenaran dengan menjadikan al-Quran sebagai sumber utama bukannya melalui proses pemikiran dan akal dan panca indra an sich. Persoalan yang ditentang oleh Al-Ghazali bukan ahli filsafat dan pemikiran yang dibawakan oleh mereka tetapi kesalahan, keteledoran, dan kesesatan yang dilakukan oleh golongan tersebut yang menganggap bahwa rasio dan pengalaman sebagai satu-satunya jalan kebenaran. Al-Ghazali, secara sederhana, mengacu pada pemikiran filsafat Al– Qur’an itu sendiri sebagai sumber ilmu pengetahuan yang menyediakan berjuta-juta kekayaan ilmu itu sendiri .
b. 2. Intuisi sebagai Sumber Kebenaran
Intuisi, berdasarkan Webster Dictionary, adalah kemampuan manusia untuk memperoleh pengetahuan langsung atau wawasan langsung tanpa melalui observasi atau penalaran terlebih dahulu. Menurut David G. Myers, penulis buku Intuition: Its Power and Perils , pemikiran intuitif itu seperti persepsi, sekelebat, dan tanpa usaha. Memang, psikolog sosial peraih Gordon Allport Prize ini secara jujur mengikuti pandangan Prof. Daniel Kahneman, Guru Besar Psikologi Princeton University, Pemenang Nobel Ekonomi 2002, dapat ditelusuri dari pernyataannya, “Kami mempelajari pelbagai macam intuisi, beragam pemikiran, dan preferensi yang mendatangi pikiran secara cepat tanpa banyak refleksi.”
Gambaran diperolehnya kebenaran intuisi ini dapat diilusterasikan pada penjelasan berikut. Saat memilih pasangan seumur hidup, memilih jurusan kuliah atau bidang pekerjaan, menentukan partner bisnis, memutuskan sebuah kebijakan atau sikap politik, bahkan ketika memasang taruhan dalam sebuah permainan, di hadapan Anda tersedia paling tidak dua pilihan. Sayang, tidak tersedia cukup waktu untuk melakukan analisis, berpikir logis apalagi kritis, sebab permainan harus segera dilanjutkan dan dadu sesaat lagi akan dilemparkan. Satu keputusan harus segera Anda tentukan. Tiba-tiba, Anda merasa memperoleh bisikan, ilham, wangsit, informasi laduni, atau apalah Anda menyebutnya. Kemudian, dengan begitu yakin dan penuh percaya diri, Anda segera menentukan satu pilihan. Dan, Anda berhasil menjadi pemenang.
Itulah salah satu cara kerja intuisi. Pelbagai data dan temuan dari beratus riset mutakhir di bidang psikologi dan riset otak telah menegaskan bahwa kecerdasan intuitif sesungguhnya bisa dimiliki oleh setiap orang dari berbagai kalangan. Melalui serangkaian argumen yang amat bernas disertai contoh-contoh lugas, tulisan David G. Myers di atas juga menunjukkan kekuatan, kelemahan, dan penerapan intuisi secara praktis untuk mencapai kesuksesan dalam beragam profesi: pejabat, pelaku ekonomi, psikiater, pendidik, pewawancara, bahkan penjudi dan paranormal sekalipun.
Menurut Niels Bohr, seorang fisikawan, “Ada kebenaran sepele, ada kebenaran agung. Kebalikan dari kebenaran yang sepele adalah keliru. Kebalikan dari kebenaran yang agung adalah benar”. Demikian juga halnya dengan intuisi manusia. Ia memiliki kekuatan-kekuatan, juga bahaya-bahaya yang mengejutkan. Di satu sisi, sains kognitif saat ini telah berhasil mengungkapkan pikiran tak sadar yang mempesonakan—pikiran lain yang tersembunyi.
Jika intuisi adalah pengenalan langsung, tanpa analisis ternalar, maka pencerapan adalah intuisi par excellence. Dengan demikian, apakah intelegensia manusia lebih dari sekadar logika? Apakah berpikir lebih dari sekadar menata kata-kata? Apakah pemahaman lebih dari sekadar pengenalan yang sadar? Psikolog kognitif George Miller menjelaskan kebenaran ini dengan kisah mengenai dua orang penumpang yang bersandar pada jeruji kapal sambil memandang lautan. “Tentu saja ada banyak sekali air di lautan”, ujar salah seorang di antara mereka. ‘Ya’, temannya menjawab, ‘dan kita hanya melihat permukaannya saja”.
Persoalan yang dihadapi oleh manusia sangat kompleks. Tidak semua persoalan itu dapat diukur dengan penilaian secara matematik, dengan hitungan angka-angka atau parametrik. Albert Einstein, penemu bom atom pertama kali dalam dunia fisika, menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa, “Tidak semua hal yang bisa dihitung berjumlah, dan tidak semua hal berjumlah bisa dihitung.” Dari pernyataan Einstein ini tersirat adanya suatu kebenaran yang datangnya tidak dapat diprediksikan secara matematis, yaitu dengan hitungan secara pasti. Ini menunjukkan adanya alternatif sebuah sumber kebenaran yang dapat dilacak dari potensi-potensi yang ada dari kekuatan manusia sebagai anugerah Tuhan. Kekuatan ini lebih mengarah kepada bagaimana manusia mampu mengoptimalkan kekuatan potensial menjadi kekuatan aktual. Kekuatan aktual yang dapat diandalkan itu adalah intuisi.
Intuisi manusia bisa keliru. Karena sepanjang sejarah umat manusia, nenek moyang kita setiap hari melihat matahari melintasi langit. Ini setidaknya memiliki dua penjelasan yang masuk akal: a) matahari memutari bumi, atau b) bumi berputar sementara matahari tetap berada di tempatnya. Intuisi lebih menyukai yang pertama. Sementara observasi-observasi ilmiah Galileo menghendaki yang kedua.
Berdasarkan paparan tersebut, intuisi dapat dijadikan sebagai salah satu sumber kebenaran yang sifatnya emergence dan subjektif. Hal ini karena intuisi dapat muncul di saat manusia dalam kondisi terpepet karena waktu sementara itu, ia harus memutuskan sesuatu yang sedang dipikirkan. Tentunya, kebenaran intuisi adalah kebenaran yang bersifat tentatif dan relatif, bukan sebagai kebenaran absolute seperti wahyu yang diyakini oleh orang yang beragama. Dalam realitasnya, intuisi memiliki kekuatan sekaligus kelemahan yang secara praktis dapat dilihat dan diamati dalam kehidupan empiris .
C. Penutup
Dalam pembahasan tersebut, kiranya kita dapat membaca dan memahami wahyu dan intuisi secara definitif. keduanya tidak dapat dinafikan untuk menjadi sumber pengetahuan disamping rasio dan pancaindra. Namun demikian, kiranya kita harus memosisikan keduanya secara proporsional. Artinya, wahyu dapat dijadikan sumber kebenaran dalam beragama dan intuisi sebagai sumber pengetahuan untuk hal yang berada di luar jangkauan akal dan panca indra. Wahyu memiliki otoritas lebih dibanding intuisi, karena memiliki sumber dan sejarah bersifat pasti sedangkan intuisi bersifat spekulatif walaupun kedua-duanya sama-sama bersifat personal.
Semoga makalah ini bermanfa’at, amin.
Bibliografi
Abduh, Muhammad. Risalah al Tauhid. Kairo: Dal al Kutub, 1998
Al Ghazali, Muhammad. Al munqiz min al dhalal. Dar al nasyr, Bairut, 1997
Al Qattan, Manna’ Khalil. Mabahist fi ulum al Qur’an. Dar al Fikr, Bairut, 2000
Kattsoff, Louis. Pengantar Filsafat. Yogyakarta, Tiara Wacana, 1996.
Myers, David G. Intuition : Its powers and Perils. Yele University Press, 2002.
Miller, George. The magical number seven, plus or minus two: Some limits on our capacity for processing information. Psychological Review:1956, dalam http://www.psych.utoronto.ca
Sahrodi, Jamali. Mempertimbangkan Intuisi Sebagai Sumber Kebenaran (http://www.scribd.com diakses 03/11/2010)
Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2003.
Tidak ada komentar: